Juli 23, 2010

Hari Anak Nasional 2010, Napi Anak: Kami Ingin Sekolah Lagi, Pak!

DENPASAR, Dinginnya lantai di balik jeruji besi menjadi alas tidur mereka sehari-hari. Belenggu tembok yang menjulang juga selalu membatasi aktivitas keseharian mereka. Begitulah nasib narapidana anak-anak yang kini mendekam di Blok K Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Kerobokan, Denpasar.


Lantaran tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah, mereka akhirnya menjadi “liar” dan salah pergaulan. “Enggak lanjutin karena enggak punya uang,” ucap Endro Cahyono, salah seorang napi anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena terbentur biaya.

Karena tidak memiliki pekerjaan yang baik, Endro pun nekat mencuri sebuah mesin air yang akhirnya mengantar remaja 16 tahun ini mendekam di Lapas Kerobokan.

Remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu hanya mampu menikmati bangku pendidikan hingga lulus sekolah dasar. Padahal, di dalam benaknya, ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti anak-anak seusianya. “Kalau ada yang biayain, saya mau sekolah,” harapnya.

Tidak berbeda jauh nasibnya dengan Endro, Mega Jayantini, satu-satunya napi anak perempuan di Lapas Kerobokan, juga harus putus sekolah gara-gara masalah biaya.

“Setelah lulus SMP, saya enggak sekolah lagi, soalnya tidak ada biaya. Bapak saya sudah meninggal, terus Ibu saya nikah lagi dan sekarang enggak peduli sama saya,” kata gadis berusia 16 tahun ini.

Lantaran salah pergaulan, Mega terseret kasus pencurian sepeda motor, yang mengakibatkan gadis asal Singaraja ini harus mendekam selama 8 bulan di Lapas Kerobokan.

“Saya kapok, Mas, dan kalau ada yang mau biayain setelah keluar, saya mau sekolah lagi,” harapnya.

Entah siapa yang harus bertanggung jawab dengan nasib anak-anak bangsa seperti mereka. Namun, jika pemerintah tidak peduli dengan keberadaan mereka, maka apa yang akan terjadi pada generasi muda kita di masa mendatang? ( http://lipsus.kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

footer