April 11, 2014

Gara-gara ‘Salah Rujuk’, Rangsangan di Kaki Akibatkan Orgasme tak Diinginkan


rangsangan-dikaki
Rangsangan di telapak kaki perempuan itu akan mengakibatkan orgasme yang tidak diinginkan tanpa rangsangan seksual sama sekali. (Foto: michellegibson/iStockphoto)

Akibat reaksi tubuh yang mengarahkan atau merujukkan rasa sakit ke organ tertentu, pengobatan yang dilakukan di kaki bisa saja mengakibatkan orgasme yang tidak diinginkan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini dilaporkan terjadi pada seorang perempuan berusia 55 tahun pada tahun 2013 lalu.

Rangsangan di telapak kaki perempuan itu akan mengakibatkan orgasme yang tidak diinginkan tanpa rangsangan seksual sama sekali. (Foto: michellegibson/iStockphoto) 
Dulu, di sekolah kedokteran, saya diajari soal rasa sakit terujuk (refered pain) dengan contoh serangan jantung yang mengakibatkan sakit di lengan atau bahu kiri.

Jantung adalah organ yang kopong dan berotot yang memompa sekitar lima liter darah per menit. Jika anda mengalami serangan jantung, ini dikarenakan otot yang melakukan pemompaan tak mendapat cukup oksigen, dan mereka ‘mengeluh’ dengan cara mengakibatkan rasa sakit di lengan atau bahu kiri.

Inilah contoh rasa sakit terujuk, dimana rasa sakit yang datang dari organ dalam, yaitu jantung, dipindahkan atau dirujuk ke lokasi di luar bagian dalam. Kta belum tahu pasti cara kerja sakit terujuk ini.
Sedangkan orgasme dari kaki, yang pertama kali tercatat di tahun 2013, prosesnya seperti rasa sakit terujuk yang terbalik. Rangsangan dari lokasi di luar, yaitu di kaki kiri seorang perempuan berusia 55 tahun, dipahami sebagai sensasi yang datang dari daerah kemaluan dalam.

Kembali ke neuroanatomi dasar, baik kaki dan kemaluan memiliki beberapa ‘pos rujukan’ yang sama, di bagian paling bawah sumsum tulang belakangnya.

Dengan kata lain, rangsangan di telapak kakinya akan mengakibatkan orgasme yang tidak diinginkan tanpa rangsangan seksual sama sekali.

Orgasme-orgasme tersebut berlangsung tiba-tiba, amat pendek, dan setelah itu perempuan tersebut butuh beberapa menit untuk pulih. Orgasme tersebut terjadi lima atau enam kali sehari, seringkali diiringi dengan keluarnya cairan lubrikasi vagina.

Awalnya, di tahun 2008,  perempuan ini menjalani operasi kantung empedu. Dalam operasi tersebut, terjadi berbagai komplikasi hingga Ia harus dirawat selama tiga minggu. Diduga, saat itu terjadi kerusakan terhadap ‘pos rujukan’ di bagian bawah sumsum tulang belakangnya.

Akibat kerusakan tersebut, Ia mengalami rasa panas dan perih di telapak kaki kirinya. Pada bulan Juni 2010, Ia diberikan obat anti-depresi paroxetine untuk mengobati rasa di kakinya tersebut. Paroxetine sendiri sempat dipermasalahkan secara hukum dan diketahui memiliki berbagai efek samping.

Beberapa hari setelah mengkonsumsi paroxetine, sang perempuan ini mulai mengalami orgasme dari kaki.
Setahun kemudian, Ia mencari cara menyembuhkan orgasme tak diinginkan tersebut.

Setelah bekerja keras, akhirnya petugas medis mencoba menyuntikkan zat pembius ke salah satu bagian di sumsum tulang belakangnya. tindakan ini mengurangi frekuensi orgasme kaki sebanyak 50 persen dan mengurangi kekuatan orgasme tersebut sebanyak 80 persen. Saat anestesi tersebut digabungkan dengan pengobatan radioterapi berdenyut (pulsed radiotherapy), orgasme kaki tersebut berhenti sama sekali
sumber :  http://www.klikinfoku.com/gara-gara-salah-rujuk-rangsangan-di-kaki-akibatkan-orgasme-tak-diinginkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

footer